Selenting Cerita dari Seorang Guru Honorer di Masa Pandemik Virus Corona
Cinta Berkata: Aku
Ada
Wahyu Kurniawan
@wkurniawan30
"Aku
ragu akan diriku, namun cinta berkata: Aku ada."
-
Sir Allamah
Muhammad Iqbal, Filsuf Islam
Saat itu, 14 Maret 2020 di kota
tempat tinggal saya, Tangerang Selatan (Tangsel), masih belum banyak orang yang
terjangkit COVID-19. Di saat itu juga, anggota grup Whatsapp saya ramai membagikan tangkapan layar (screenshot) surat-surat edaran dari
pemerintah daerah maupun dinas pendidikan daerah yang berisi info bahwa sekolah
diliburkan dan mengganti kegiatan belajar mengajar yang terlewat dengan
menggunakan via daring atau dalam jaringan (online).
Seperti contohnya Pemerintah Kota Depok yang sudah
meliburkan sekolah-sekolah. Karena pada waktu itu, Depok adalah kota pertama
yang warganya terjangkit Virus Corona. Saya dan teman guru yang lain
harap-harap cemas menunggu keputusan dari Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan.
Kami
sebenarnya tidak ingin sekolah diliburkan, karena itu akan mengurangi
efektivitas kegiatan belajar mengajar. Tidak lama setelah itu, sekitar pukul
19.00, tibalah surat edaran yang dalam bentuk digital itu dibagikan oleh Ibu
Kepala Sekolah. Beliau meneruskan surat
edaran itu yang dari grup Whatsapp
Kepala Sekolah se-Ciputat. Dalam surat edaran itu ada poin yang menjelaskan
bahwa guru tetap masuk. Memang pada saat itu, guru-guru harus masuk untuk merekap nilai
hasil PTS (Penilaian Akhir Semester) dan juga mempersiapkan Tryout Tingkat Kota
untuk kelas 6. Ibu Kepala Sekolah juga memberi info bahwa guru-guru akan
mendapat bimbingan teknis dari Pengawas Guru SD mengenai cara mengajar via
daring. Mungkin anda yang sedang membaca ini akan berpikir, mengajar daring kok
ada bimbingan teknisnya? Saya rasa hampir di semua SD negeri, mayoritas gurunya
adalah Generasi X di mana mereka belum terlalu menguasai gawai. Di sekolah
tempat saya mengajar saja, yang berusia 25 sampai 35 tahun hanya ada 10 guru
dari total 30 guru. Selain itu, bimbingan teknis ini juga sangat diperlukan
untuk menyamakan sistem pemberian tugas dan penilaian tugas.
Saya dan teman-teman guru yang lain
sudah datang di sekolah tepat pukul 07.00 pagi. Sambil saya menunggu bapak
Pengawas SD, saya membuka laptop dan memeriksa ulang tugas yang sudah saya buat
tadi malam untuk diberikan ke siswa-siswi saya siang ini. Saya berinisiatif
memakai fitur Google Form yang ada di
dalam aplikasi Google Docs. Pada
awalnya saya ingin memakai Google
Classroom, tetapi bagi saya sistem pemberian soal dan penilaiannya terlalu
rumit. Tak lama kemudian, bapak Pengawas SD datang dan dimulailah bimbingan
teknis mengajar lewat daring. Semua teman guru saya—khususnya yang rata-rata
berusia 40 sampai 50 tahun—sangat antusias sekali. Berbeda dengan saya dan teman
guru yang berusia lebih muda yang sudah terbiasa, mereka baru kali ini akan
memberi tugas via daring. Mereka sangat fokus ke gawainya masing-masing sambil
mendengarkan instruksi bapak Pengawas SD. Walaupun tidak secara lisan
diucapkan, saya rasa, saya dan teman-teman guru yang lain sepakat untuk tetap
menunaikan tugas sebagai guru dan agar murid-murid tetap mendapatkan
pendidikan. Mungkin itu bisa disebut sebagai cinta seorang guru.
Kami selesai bimbingan teknis tepat
pada pukul 12.00 di mana saat itu Ibu Kepala Sekolah ternyata sudah selesai
memasak makan siang untuk guru-guru dan bapak Pengawas SD. Ibu Kepala Sekolah
saya memang suka sekali memasak. Di sekolah, hampir setiap hari dia memasak makan siang untuk para guru, kecuali hari Senin dan Kamis. Ya, para guru di sekolah saya sangat
rajin puasa sunnah.
Keesokan harinya kami mendapat
surat edaran terbaru dari Dinas Pendidikan Kota Tangsel yang menginfokan bahwa
guru boleh mengajar via daring dari rumah. Dan hingga sampai saat ini —tulisan
ini dibuat—, saya dan teman guru yang lain tetap memberi tugas daring dari hari
Senin sampai Sabtu dan terus menerus hingga berakhirnya masa Social Distancing
nanti ataupun hingga Tahun Pelajaran 2019 – 2020 selesai. Selama proses kegiatan belajar mengajar lewat daring ini, saya dan teman
guru yang lain bercerita tentang respons-respons dari wali murid ataupun muridnya
di grup Whatsapp. Ada wali murid yang
senang karena anaknya menjadi rajin menggunakan gawai untuk belajar dibanding
menonton video-video Youtube. Ada juga wali murid yang mengeluh karena biasanya
menggunakan gawai untuk Whatsapp
saja, kali ini digunakan untuk membuka Google
Classroom atau Google Form. Ada
juga yang sampai membuat pantun. Ini pantunnya:
Dari Murid yang Lagi
Belajar Di Rumah
Beli celana di Pasar
Baru
Terkena paku di segala
penjuru
Wahai Corona cepatlah berlalu
Sebab mamaku tak cocok
jadi guru
Sudah pasti bukan
kanguru
Karena bulunya berwarna
merah
Mamaku tak cocok tuk
jadi guru
Sebab ngajarnya selalu
marah-marah
Ikan tuna dan ikan
lohan
Bila beradu Si Tuna
kalah
Wahai Corona pulanglah
ke Wuhan
Kami rindu ibu bapak
guru di sekolah
Ikan tuna masak di
panci
Kalau ditutup matang
merata
Wahai Corona cepatlah
pergi
Mama dah tak sanggup
beli kuota.
Lucu dan kreatif sekali bukan?
***
Saya rasa kita selalu sepakat
dengan pepatah “Everything happen for a
reason”. Di kondisi yang tidak kondusif seperti saat ini, banyak hikmah
yang bisa kita ambil. Contohnya, meningkatnya kepedulian terhadap kebersihan
ataupun orang tua yang bisa menghargai waktu bersama anaknya. Selain itu, dari
pengalaman saya di atas, hikmah yang saya rasakan adalah kita semua mau tidak
mau harus mengikuti mengikuti perkembangan zaman. Kita semua dituntut untuk
lebih mahir dan bijaksana dalam menggunakan gawai. Sir Allama Muhammad Iqbal, dalam
pemikiran eksistensialismenya, menerangkan tujuan ego yaitu menjadi sesuatu yang berubah terus menerus (berkembang).
Setelah tujuan itu tercapai, maka kita baru bisa disebut sebagai manusia yang
eksis (ada). Manusia yang tidak lenyap oleh zaman. Untuk menjadi sesuatu yang
berkembang, haruslah punya alasan yang kuat agar kita konsisten. Pada akhirnya,
hanya ada satu hal yang paling mendasar yang bisa kita jadikan motivasi untuk
terus berkembang. Hal itu adalah "Cinta".
Punyailah cinta, berkembanglah, lalu
menjadi ada.
(tulisan ini pada dibuat untuk tujuan mengikuti sayembara teks non-fiksi yang diadakan oleh instagram @nulisyuk)
Cinta yang luar biasa Pak Wahyu, tulisannya bagus, sukses selalu ya 👍
ReplyDelete